preresiden SBY menyalah gunakan kekuasaan dan secara
pribadi mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi tokoh-tokoh
politik korup. Penggunaan Badan Intelijen Negara BIN oleh SBY untuk
memata-matai musuh politik dan menteri senior, seperti dibongkar oleh
Wikileaks dan disorot media Australia, bukan hal baru. Itu semua
mempertegas pengamatan para pakar politik. Demikian Indro Cahyono
pengamat militer dan intelijen menanggapi pemberitaan di koran
Australia, The Age dan Sydney Morning Herald.
Kalau untuk pemilu saja menggunakan operasi intelijen maka pasti untuk mengawasi lawan-lawannya dia akan mengerahkan atau menggunakan aparat yang sama. Itu saya kira begitu. Apa yang dikemukakan oleh Wikileaks bagi kita bukan hal yang tidak kita ketahui, kita tahu persis. Tapi sekarang mendapat konfirmasi atau pembuktian yang lebih jelas. Negara Amerika sendiri rupanya mengetahui juga hal itu.
Jadi ini menambah kepastian kepada kita agar tidak ragu-ragu bahwa SBY melakukan "abuse of power" (penyalah gunaan kekuasaan, red) menggunakan segala kedudukan atau kewenangannya untuk kepentingan pribadi. Ini memperjelas dan meyakinkan kita dan sebenarnya kalau sudah yakin tidak ada alasan lagi untuk melakukan impeachment pada presiden.
Data Kredibel
Radio Nederland (RNW) : Ketua fraksi Parta Demokrat Muhammad Jafar Hafsah di DPR-RI hari Jum'at (11/3) mengatakan, motif pemberitaan di koran The Age dan Sydney Morning Herald adalah untuk mendiskreditkan SBY.
IC : Kalau koran barangkali dia bisa mengatakan mendiskreditkan atau bukan. Tapi data Wikileaks itu sangat kredibel bagi pengamat politik di Indonesia karena data-data itu adalah data-data yang dibongkar dari hubungan diplomatik resmi jadi formally antara G to G (antar pemerintah) di semua negara. Jadi silahkan pembantu presiden atau ketua Partai Demokrat mengatakan bahwa ada motif mendiskreditkan.
Yang dilakukan kedua koran Australia itu adalah mengungkapkan kebenaran ketika koran-koran di tanah air sudah diancam oleh sekretaris kabinet Ipu Alam kemaren. Jadi sekarang semacam solidaritas pers, ketika pers dalam negeri sudah tidak berkutik media massa luar negeri mencoba mengungkapkan hal itu di luar negeri.
Terus terang, SBY di Indonesia memasung pers lebih dari pada presiden-presiden yang lain. Mereka menggunakan ancaman segala.
RNW : Mantan menteri sekretaris negara Yuzril Ihza Mahendra mengatakan tidak terkejut mendengar pemberitaan di koran Australia itu tetapi ia menyesalkan apa yang dilakukan SBY terhadap dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar